Heboh! Harga Cabai Rawit Tembus Rp 120.000/kg: Panen Gagal, Hujan Terus, dan Peran Tengkulak yang Diperdebatkan
bu-ibu rumah tangga dan pedagang kaki lima kembali mengeluh. Harga cabai rawit merah dalam beberapa hari terakhir meroket luar biasa, mencapai Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per kilogram di beberapa pasar. Lonjakan harga ini membuat cabai yang biasanya jadi bumbu wajib, kini berubah menjadi "komoditas mewah".
Berdasarkan penelusuran, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Yang pertama adalah faktor cuaca. Musim hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa minggu terakhir telah menyebabkan banyak tanaman cabai yang rusak, busuk, dan gagal panen. Hasil produksi yang menurun drastis tidak sebanding dengan permintaan yang tetap tinggi, sehingga hukum ekonomi pun berlaku: harga melambung.
Faktor kedua adalah rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien. Cabai dari petani harus melalui banyak tangan sebelum sampai ke konsumen, termasuk tengkulak, pedagang pengumpul, dan baru ke pasar. Setiap mata rantai mengambil margin keuntungan, yang akhirnya membebani harga di tingkat konsumen.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah berupaya menstabilkan harga dengan operasi pasar, namun cakupannya masih terbatas. Fenomena ini kembali memantik debat tentang perlunya perbaikan sistem distribusi dan pemberdayaan petani secara langsung, agar harga di tingkat petani dan konsumen tidak terlalu jomlang.




