Antara Konten Liburan ke Korea dan Berita PHK Massal: Mengurai Wajah Ganda Ekonomi Indonesia Saat Ini

Scroll media sosial, Anda akan melihat banyak orang Indonesia berswafoto di Seoul, Jeju, atau Busan. Program visa waiver (bebas visa) untuk Indonesia ke Korea Selatan memang memicu gelombang euforia berlibur. Namun, di timeline yang sama, berita tentang PHK di sektor teknologi, manufaktur, dan finansial juga kerap muncul. Bagaimana memahami fenomena ini?

Membaca Data di Balik Euforia "Korea Wave":

  1. Kelas Menengah yang Kuat: Tren ini menunjukkan bahwa segmen kelas menengah atas Indonesia masih memiliki daya beli yang kuat. Mereka adalah kelompok yang pekerjaannya relatif aman atau memiliki bisnis yang tetap bertahan.

  2. Prioritas Pengeluaran yang Berubah: Pasca-pandemi, ada revenge travel atau "balas dendam" untuk berlibur. Orang mengalokasikan dana untuk pengalaman (experiential spending) setelah lama terkurung.

  3. Efek Harga Tiket Promo: Banyaknya promo tiket pesawat dan paket tur juga membuat liburan ke Korea lebih terjangkauau daripada sebelum pandemi.

Realitas Pahit di Sektor Industri:

  1. Resesi Global dan Restrukturisasi: Banyak perusahaan, terutama startup dan sektor ekspor, terkena dampak perlambatan ekonomi global. Mereka melakukan efisiensi, termasuk PHK, untuk bertahan.

  2. Disrupsi Teknologi dan AI: Otomatisasi dan AI mulai menggantikan beberapa jenis pekerjaan, terutama yang bersifat repetitif.

  3. Sektor Spesifik: PHK banyak terjadi di sektor teknologi yang sebelumnya over-hire, sementara sektor seperti pariwisata, F&B, dan kesehatan justru sedang tumbuh.

Kesimpulan: Dua Wajah Ekonomi Ini adalah cerita tentang ketimpangan dan pergeseran struktur ekonomi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang positif (sekitar 5%) tidak dirasakan secara merata. Sementara satu kelompok menikmati mobilitas dan konsumsi internasional, kelompok lain di sektor yang terdampak justru berjuang mempertahankan pekerjaan. Pemerintah ditantang untuk tidak hanya menjaga pertumbuhan makro, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas dan program pelatihan ulang (reskilling) bagi tenaga kerja yang terdampak disrupsi.

Previous Post Proyek Food Estate vs Lahan Masyarakat Adat: Mencari Titik Temu Pembangunan dan Keadilan Agraria Next Post RUU Kesehatan Mengundang Kontroversii: Mengupas Pasal-pasal yang Diperdebatkan, dari BPJS hingga Tenaga Asing
maluku Kecantikan gadis Maluku manis manis
maluku Kecantikan gadis Maluku manis manis
15 Feb 2025
china bening - bening dan kota maju banget
china bening - bening dan kota maju banget
20 Feb 2025
papua kota indah untuk di kunjungi
papua kota indah untuk di kunjungi
15 Feb 2025